iklan

√ 6 Tipe Dosen Yang Paling Dibenci Mahasiswa

Tulisan ini dibentuk berdasarkan pengalaman pribadi saya sendiri sehabis sekian usang berkuli √ 6 Tipe Dosen Yang Paling Dibenci Mahasiswa


Tulisan ini dibentuk berdasarkan pengalaman pribadi saya sendiri sehabis sekian usang berkuliah, dan selama itu pula saya telah bertemu dengan banyak sekali jenis corak ragam dosen mulai dari yang baik, cukup baik hingga ke yang sangat menyebalkan.


Dan goresan pena ini sama sekali tidak mencerminkan keseluruhan pendapat mahasiswa lainnya. Adapun tipe dosen yang paling dibenci mahasiswa adalah;


Tipe Dosen Yang Sangat Pelit Nilai


Mungkin tipe ini yakni yang paling diktatorial diantara tipe yang lainnya, maksudnya yakni bahwa hampir semua mahasiswa niscaya baiklah dengan pendapat saya. Siapa sih mahasiswa yang nggak ingin menerima nilai yang tepat dan manis dalam kuliahnya. Karena tanpa kita sadari bahwa elemen nilai yakni salah satu tolak ukur keberhasilan daya serap mahasiswa terhadap satu mata kuliah. Semakin rendah nilai yang beliau peroleh, maka peluang beliau menguasai bahan tersebut juga mungkin kecil.


Saya nggak habis pikir, bagaimana dosen tipe ini masih sanggup eksis hingga sekarang. Bahkan salah satu dosen dikampus saya pernah berujar, bahwa nilai A yakni milik Tuhan, B milik dosen dan untuk mahasiswa yakni C dan D.


Contoh nyatanya yakni satu mata kuliah (HP) di kampus saya semester kemarin dari seluruh angkatan hanya 1 orang yang menerima nilai A, sisanya anda tahu sendiri. Satu hal yang pasti, popularitas dosen tersebut dimata mahasiswa tentu akan merosot dan mengakibatkan namanya paling dibenci mahasiswa. Pelit boleh tapi ada batasnya dong, masa dari 140-an mahasiswa hanya 1 orang yang sanggup A. (nggak masuk nalar sehat saya).


Tipe Dosen Yang Tidak Demokratis


Sekarang Indonesia telah memasuki masa demokrasi, dimana pluralisme dan kebebasan beropini dan berekspresi semakin dijunjung. Tak hanya di bidang politik, namun juga di bidang pendidikan.


Dalam bidang pendidikan, referensi nyatanya yakni seorang dosen dituntut “open-minded” terhadap pendapat mahasiswanya. Dan kadangkalanya hal itu tidak berlaku pada dosen tertentu, mereka masih saja bersikap otoriter dan diktator, dimana setiap perkataan yang keluar dari mulutnya merupakan sebuah kebenaran mutlak dan semua mahasiswanya harus setuju. Sedikit saja ada perbedaan persepsi dan pendapat antara dosen dan mahasiswa, sanggup dipastikan bahwa nilai mahasiswa tersebut akan turut terpengaruh. Itu jenis dosen yang cukup saya benci.


Dalam alam demokrasi dan liberal tidak ada satupun jargon yang benar dalam menyikapi suatu problem (terutama problem sosial), setiap orang melihat sesuatu dari sisi yang berbeda, mungkin dosen melihat dari sisi A sedangkan mahasiswa lebih melihat dari sisi B terhadap suatu pokok problem yang sama.


Kemudian, apakah kita sanggup men-judge sesorang salah dan benar? Dan jikalau semua perkataan dosen yang benar, dimana hakekat dari pendidikan? Sehingga ungkapan KBM atau Kegiatan Belajar dan Mengajar tidak lagi relevan, seharusnya diganti saja dengan Kegiatan Mengajar dan Mengajar, tidak perlu belajar. Biasanya tipe ini dihinggapi pada dosen-dosen bau tanah yang mungkin telah usang hidup pada masa Orde Baru dan telah lulus berkali-kali penataran P4.


Tipe Dosen Yang Tidak Dapat Memisahkan Antara Hal-hal Sakral Dan Akademis


Pernah ada dulu seorang dosen yang sangat konservatif dan cenderung agak bergairah terhadap mahasiswa yang tidak seiman dengan dia. Kata-katanya sangat tidak pantas diucapkan oleh seorang dosen terdidik ibarat beliau alasannya yakni sangat diskriminatif terhadap golongan minoritas. Jujur saja, saya sangat tidak suka terhadap dosen yang membawa kehidupan religius beliau ke dalam kampus.


Bagi saya, urusan agama yakni hak dan urusan masing-masing individu. Agama berada di ranah privat sedangkan akademis berada di ranah publik. Sehingga, berdasarkan saya tidak ada wewenang seorang dosen untuk membawa-bawa problem agama didalam kampus yang sanggup mencederai perasaan golongan minoritas. Seingat saya, kini saya kuliah di Universitas Negeri deh, bukan di Universitas Agama tertentu! Banyak orang yang sangat anti dengan sekulerisme, tapi berdasarkan saya sekuler itu perlu untuk memisahkan kita dari urusan duniawi dan agama.


Berbicara mengenai agama di kampus tidak terlarang bagi siapapun, namun tetap dengan batasan tertentu. Dosen tipe ini biasanya tidak pernah mengenyam pendidikan luar negeri dan semasa kecil mungkin di didik dengan anutan yang kurang tepat.


Tipe Dosen Yang Strict (keras dan ketat) Terhadap Peraturan


Ini merupakan tipe yang sangat subyektif dan mungkin tidak semua mahasiswa baiklah alasannya yakni hanya saya yang merasakannya. Kehidupan kampus merupakan suatu kehidupan yang sangat jauh berbeda dibandingkan dengan kehidupan sekolah dulu.


Disini kita diberi sedikit kebebasan untuk menjadi diri kita sendiri, dengan berpakaian bebas, rambut gondrong, hukum mangkir yang agak longgar dan lain-lain walaupun harus tetap menuruti aturan-aturan yang berlaku.


Namun hal ini tidak berbanding lurus dengan beberapa dosen tertentu yang menerapkan hukum yang lebih keras daripada hukum penjara. Keras dan ketat sih boleh saja tapi kalau kelewat batas, jadi nggak ada lagi beda antara dosen dengan sipir penjara.


Tipe Dosen Yang Tidak Menguasai Keadaan Kelas


Tipe ini sangat dirasakan mahasiswa ketika mereka harus kuliah di waktu siang hari, belum makan siang dan dalam keadaan mengatuk. Atau disaat sedang kuliah yang dosennya membosankan dan memakan waktu yang lama.


Seharusnya seorang dosen harus menguasai keadaan sekitar termasuk keadaan mahasiswa yang sedang diajarnya. Ketika suasana kelas sudah masuk ke tahap membosankan dan banyak mahasiswa yang mukanya masam, dosen yang bijaksana sebaiknya menghentikan acara berguru mengajar dan bertanya kepada mahasiswa apakah kuliah ini dilanjutkan atau tidak sehingga tidak ada kerugian di kedua belah pihak.


Berdasarkan pengalaman pribadi saya, suasana didalam kelas yang membosankan akan berdampak negatif terhadap mahasiswa, di satu sisi dosen tidak sanggup memperlihatkan pengetahuannya secara maksimal dan disisi lain mahasiswa niscaya tidak akan merespon dengan baik transfer of knowledge tersebut.


Mahasiswa cenderung akan menyibukkan dirinya sendiri, ibarat mengobrol dengan teman, sms-an, otak-atik handphone, menggambar hingga melongo hal-hal yang tidak benar. Ketika suasana sudah tidak lagi kondusif, maka dibutuhkan sebuah terobosan gres yang sanggup membangkitkan suasana dan itu sanggup dilakukan jikalau si dosen telah berpengalaman.


Dosen Muda Yang Sok Dan Mengira Dirinya Paling Hebat Sendiri


Tipe terakhir ini, sesungguhnya merupakan alasan mengapa saya menciptakan goresan pena ini. Di kampus saya sendiri terdapat beberapa dosen muda yang umumnya berusia 23 hingga 26 tahun. Dan mereka pun telah mengenyam pendidikan yang cukup mapan ibarat lulusan S2 dari Universitas Indonesia atau Universitas Gadjah Mada. Dari ketiga dosen muda yang semester ini mengajar saya, ada 1 dosen perempuan yang sangat tidak terkenal dimata seorang Dion.


Agak takut juga menulis tipe terakhir ini, takutnya nanti beliau baca dan tersinggung dan imbasnya nilai saya yang jadi taruhan. Tapi kini jamannya kebebasan, right to speech. Dosen muda ini sangat keras peraturannya, terlambat sedikit masuk kelas, anda bakalan tidak diperbolehkan lagi masuk dan juga sedikit saja anda tertangkap berair mengobrol (walaupun itu hanya berbisik), maka nama anda yang akan terkontaminasi alasannya yakni pribadi diejeknya dengan makian yang nggak lezat didengar telinga.


Jujur, saya mungkin maklum, jikalau yang melakukannya seorang dosen bau tanah nan senior alasannya yakni pengalamannya telah banyak, tapi dosen muda yang usianya hanya terpaut 3-5 tahun dari kita, itu yang sangat tidak masuk akal.


Memasang tampang sok cool, berbicara panjang lebar dengan memperlihatkan referensi yang panjangnya melebihi penjelasannya itu sendiri, sok galak dengan mahasiswa, yakni sesuatu yang mengerikan bagi saya. Untungnya tidak semua dosen muda yang ibarat dia, 2 orang dosen muda pria justru mempunyai sifat yang lebih lemat lembut, pengertian dan sangat student-oriented. Tidak ada perasaan was-was ketika diajar oleh mereka, justru kita mahasiswa merasa bukan sedang diajar oleh seorang dosen melainkan lebih kepada diskusi antar teman.


Dengan terciptanya suasana ini maka, mahasiswa lebih merasa diterima. Yang membedakan antara dosen muda dengan dosen senior yakni sifat pengertiannya terhadap mahasiswa. Dan apabila ada dosen muda yang sok ibarat dosen perempuan diatas, maka siap-siaplah anda untuk tidak terkenal dimata anak didik anda. Dan inti dari apa yang diajarkan anda tidak menjadi manfaat bagi mahasiswa.


Itulah tipe dosen yang paling saya benci selama saya kuliah. Dan sekali lagi goresan pena ini merupakan refleksi pribadi penulis dan mungkin tidak semua mahasiswa di planet ini yang baiklah dengan keseluruah atau sebagian tipe dosen diatas. Anda yang memilih sekarang. Make a chooice, mate! Speak up!


Think Different!



Sumber https://dionbarus.comm

1 Response to "√ 6 Tipe Dosen Yang Paling Dibenci Mahasiswa"

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel